September 06, 2016

Hipokalsemia pada Anjing

hipokalsemia anjing
Hipokalsemia pada Anjing (Sumber gambar: http://www.vetbook.org/
Hipokalsemia merupakan penyakit metabolisme yang ditandai dengan turunnya kadar Ca dalam darah, penyakit ini umumnya terjadi saat melahirkan pada betina dewasa dengan gejala ketidakmampuan berdiri, kelemahan otot, kolaps dan depresi. Hipokalsemia dapat disebut juga paresis puerpuralis, milk fever, calving paralysis, parturient paralysis, dan parturient apoplexy. Penyakit ini biasanya terjadi pada sapi, tetapi anjing juga bisa terkena penyakit ini, khususnya anjing betina pada masa akhir kebuntingan atau pada masa laktasi.
Pada dasarnya penyebab hipokalsemia adalah kehilangan Ca. Konsentrasi kalsium darah bisa menurun sebagai akibat dari berbagai masalah. Sebagian besar kalsium dalam darah dibawa oleh protein albumin, karena itu jika terlalu sedikit albumin dalam darah akan menyebabkan rendahnya konsentrasi kalsium dalam darah Hipokalsemia paling sering terjadi pada penyakit yang menyebabkan hilangnya kalsium dalam jangka lama melalui air kemih atau kegagalan untuk memindahkan kalsium dari tulang. Absorbsi Ca oleh usus yang rendah juga menjadi penyebab dasar terjadinya penyakit ini. Hipokalsemia juga bisa terjadi akibat hipofosfatemia (kadar fosfat yang rendah dalam darah). Hipokalsemia juga dapat disebabkan karena defisiensi vitamin D (1,25-Dihidroxycholecalciferol). Kekurangan vitamin D biasanya disebabkan oleh asupan yg kurang dan kurang terpapar sinar matahari. Beberapa faktor, seperti umur, kepekaan ras, ketidakseimbangan ransum, produksi susu yang tinggi, partus, dan kondisi stress juga dapat menyebabkan hipokaslemia.

Gejala Hipokalsemia terbagi menjadi dua yaitu hipokalsemia subklinis dan klinis. Pada keadaan subklinis biasanya tidak ada tanda-tanda yang khas. Hanya meliputi turunnya nafsu makan yang disebabkan turunnya aktivitas / kontraksi usus, produksi susu rendah serta performa reproduksi yang suboptimal. Sedangkan pada kondisi klinis dapat diamati terjadinya penurunan kadar kalsium di dalam darah. Gejala klinis lain dari hipokalsemia adalah terjadinya peningkatan neuromuscular excitability, sehingga menghasilkan kondisi tetany, seizure, muscle fasciculation, hyperthermia, kekakuan dalam bergerak, kelemahan, serta tremor. Gejala tetany biasanya terlokalisir pada kelompok otot tertentu, seprti otot wajah dengan manifestasi berupa menggosokkan wajah atau mencakar bagian wajah karena adanya kesakitan akibat kekejangan pada wajah. Selain itu, biasanya hewan terlihat gelisah dan lebih agresif.

 Gejala lain yang dapat terjadi adalah katarak yang disebabkan oleh keadaan hipokalsemia yang lama (biasanya disebabkan oleh hipoparatiroidisme primer). Kondisi katarak yang disebabkan oleh hipokalsemia biasanya terjadi pada area cortical subcapsular anterior dan posterior lensa. Gejala lain yang dapat terlihat pada kondisi hipokalsemia adalah panting atau hiperventilasi (Rubin dan Carr 2007).

Diagnosa untuk mengetahui penyakit ini ialah berdasarkan signalement, anamnesis, gejala klinis, dan respons terhadap terapi yang diberikan. Pemberian pretreatmen serum kalsium dengan konsentrasi < 7 mg/dL akan memperkuat diagnosa.

Pengobatan hipokalsemia dapat dilakukan dengan pemberian garam kalsium seperti: kalsium chloride, kalsium gluconate, dan kalsium borogluconate. Pengobatan juga dapat dilakukan dengan memberikan suplemen-suplemen kalsium oral, seperti kalsium karbonat. Pemberian dapat dilakukan secara intravena ataupun secara subkutan, intramuscular, atau intraperitoneal. Pemberian preparat kalsium secara intravena dapat menyebabkan hewan lebih cepat pulih, akan tetapi pemberiannya harus dilakukan secara hati-hati, tidak boleh dilakukan terlalu cepat karena dapat menyebabkan takhikardia dan aritmia jantung yang dapat mengakibatkan kematian paada hewan. Selain itu pengobatan pada kasus hipokalsemia dapat juga dilakukan dengan pemberian vitamin D. Defisiensi vitamin D dapat dikoreksi dengan pemberian vitamin D sebanyak 400 - 1000 IU/hari.

Referensi:
Bewley & Phillips. 2010. Prevention of Milk Fever. University of Kentucky
DeGaris PJ & Lean IJ. 2008. Milk Fever in Dairy Cows: A Review of Pathophysiology and Control Principles. The Vet. J. 176(1): 158-6.
Plumb DC. 1999. Veterinary Drug Handbook 3rd Ed. Phamma Vet Publishing. Minnesota.
Rubin SI, Carr AP. 2007. Canine Internal Medicine Secrets. Mosby Elsevier. USA.


Artikel terkait:

No comments:

Post a Comment