September 26, 2016

Rangkuman sejarah Kesehatan Masyarakat (Veteriner)

veterinary public health
Public Health (Sumber gambar: http://www.sph.tulane.edu/)

Dalam membicarakan kesehatan masyarakat, tidak bisa diabaikan peran dari 2 tokoh mitologi Yunani, yaitu Asclepius dan Higeia. Asclepius merupakan seorang dokter pertama yang tampan dan pandai, sedangkan Higiea merupakan asisten dan juga istri dari Asclepius yang telah melakukan berbagai upaya kesehatan. Dari 2 tokoh tersebut terdapat perbedaan yang berkaitan dengan penanganan masalah kesehatan hewan, yaitu: Asclepius melakukan pengobatan penyakit setelah penyakit tersebut menyerang seseorang, sedangkan Higiea mengajarkan tentang pendekatan masalah kesehatan melalui hidup seimbang dan juga lebih menganjurkan melakukan upaya secara alamiah untuk penyembuhan penyakit dengan cara memperkuat kondisi tubuh. Dari cerita mitos Yunani tersebut, muncul 2 aliran dalam menangani masalah kesehatan. Pada perkembangan selanjutnya, timbul garis pemisah Antara kedua kelompok profesi, yaitu pelayanan kesehatan kuratif (Currative Health Care) dan pelayanan pencegahan atau preventif (Preventive Health Care). Dari 2 aliran tersebut terdapat perbedaan terhadap aspek-aspek tertentu.

Perkembangan kesehatan masyarakat sudah dimulai sebelum berkembangnya ilmu kesehatan modern. Oleh karena itu dapat dijabarkan sebagai berikut:
a.      Periode sebelum ilmu pengetahuan
Pada periode ini, tercatat bahwa manusia berusaha untuk menanggulangi berbagai masalah kesehatan masyarakat dan penyakit, sudah ada peraturan yang mengatur tentang pembuangan air limbah (drainase), pengaturan air minum, tempat pembuangan kotoran umum (latrine). Pada jaman Romawi kuno telah dikeluarkan suatu peraturan yang  mengharuskan masyarakat mencatatkan pembangunan rumah, melaporkan binatang-binatang berbahaya dan binatang-binatang peliharaan yang menimbulkan bau. Pada intinya pada periode ini masalah kesehatan hanya dilakukan sebagai fenomena biologis yang sempit, upaya pemecahan masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh belum dilakukan oleh orang pada zaman itu. 
b.      Periode Ilmu Pengetahuan
   Pada periode ini, masalah kesehatan dipandang sebagai masalah yang kompleks. Pendekatan dilakukan secara komprehensif dan multisektoral. Pada periode ini ditemukan berbagai macam penyebab penyakit dan vaksin sebagai pencegah penyakit, dikembangkan juga pendidikan untuk tenaga kesehatan yang professional.

Hubungan Antara kesehatan hewan dengan manusia telah lama diketahui orang, tetapi baru disadari setelah Perang Dunia II. Pada tahun 1950 para ahli di WHO dan FAO telah membahas persoalan penyakit yang sangat penting dari segi kesehatan dan dari segi ekonomi seperti rabies, brucellosis, TBC, dan lain-lain. Pada tahun 1959, Kaplan menguraikan definisi Veterinary Public Health sebagai segala usaha masyarakat yang dipengaruhi oleh ilmu kedokteran hewan yang ditujukan untuk pencegahan penyakit, perlindungan hidup, dan promosi kesehatan dan efisiensi promosi tersebut terhadap manusia. Pada tahun 1969, Schwabe menerangkan bahwa Veterinary Public Health merupakan istilah yang digunakan disuatu lapangan yang mempergunakan segala macam keahlian “Veterinary skill” dapat menjadi petunjuk untuk memecahkan persoalan masyarakat dalam hal kesehatan dan penyakit. Ruang lingkup kerja seorang “Veterinary Public Health” menjadi luas karena mereka berperan dalam pencegahan, pengawasan dan pembasmian penyakit (zoonosis), pengawasan tehadap bahan makanan yang berasal dari hewan, sanitasi lingkungan, serta pendidikan dan riset.

Di Indonesia, kesehatan masyarakat veteriner telah dimulai pada permulaan abad ke-20, yaitu sejak adanya “Veterinary Hygine” dibeberapa kotamadya seperti Surabaya, Jakarta, Semarang dan Bandung.. Pemerintah menugasi seorang dokter hewan ditiap Kotamadya untuk mengawasi kesehatan susu dan kesehatan daging supaya susu/daging yang sampai dikonsumen berada dalam keadaan utuh dan tetap sehat.

Hubungan antara IKM dengan Kesmavet dapat dilihat pada Undang-undang No.6 tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan, Peraturan Pemerintah RI No.22 tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan, Menteri Pertanian, dan Menteri Dalam Negeri No.279A, No.522, dan No.143 tahun 1983 tentang Peningkatan Pemberantasan dan Penanggulangan Rabies.

September 17, 2016

Penyakit Leprosy/Lepra, Filariasis, dan Balantidiasis pada Primata

orang utan primata
Orang utan (Sumber gambar: inhabitat.com)

Leprosy/Lepra
  •  Definisi
Lepra adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini pertama kali menyerang susunan saraf tepi , selanjutnya menyerang kulit, mukosa (mulut), saluran pernafasan bagian atas, sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis.
  • Etiologi
            Mycobacterium leprae adalah penyebab dari lepra. Sebuah bakteri yang tahan asam. Secara morfologik berbentuk pleomorf lurus batang panjang, sisi paralel dengan kedua ujung bulat, ukuran 0,3-0,5 x 1-8 mikron. Basil ini berbentuk batang gram positif, tidak bergerak dan tidak berspora, dapat tersebar atau dalam berbagai ukuran bentuk kelompok, termasuk massa ireguler besar  yang disebut sebagai globi.
  • Host
            Manusia, armadillo (Dasypus spp.), simpanse, dan mangabey (Cercocebus).
  • Tanda Klinis
            Adanya bercak tipis seperti panu pada badan dan lama-lama semakin melebar dan banyak, adanya pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus serta peroneus, kulit menjadi tipis dan mengkilat. Munculnya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit, muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa). Sedangkan gejala umumnya dapat berupa panas dari derajat yang rendah sampai dengan menggigil, anoreksia, nausea, kadang-kadang disertai vomitus, cephalgia, kadang-kadang disertai iritasi, orchitis dan pleuritis.
  • Pengobatan
            Lepra merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan dalam jangka waktu cukup lama. Pengobatan umumnya menggunakan multiple drug therapy (menggunakan gabungan beberapa obat), misalnya gabungan obat bakterisidal dapson, rifampin, dan klofazimin. Pencegahan lepra dapat dilakukan dengan pemberian vaksin BCG tetapi efektivitasnya bervariasi pada masing-masing individu, dan penerapan biosafety level 2.

                                                                    Filariasis
  • Definisi
            Filariasis merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria dan ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini dapat menimbulkan cacat seumur hidup  pada penderitanya.
  • Etiologi
            Filariasis disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang hidup di saluran dan kelenjar getah bening. Anak cacing yang disebut mikrofilaria, hidup dalam darah. Mikrofilaria ditemukan dalam darah tepi pada malam hari. Filariasis di Indonesia disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu:Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Di Indonesia, genus nyamuk yang menjadi vektor filariasis yaitu: Mansonia, Anopheles, Culex, Aedes, dan Armigeres, tetapi yang menjadi vektor utamanya ialah Anopheles farauti dan Anopheles punctulatus.
  • Host
Lutung (Presbytis criatatus), kera (Macaca fascicularis), dan Manusia.
  • Tanda Klinis
            Demam berulang-ulang selama 3-5 hari, pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit. Kemudian terjadi peradangan saluran kelenjar getah bening yang menjalar dari retrograde lymphangitis. Filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah. Sedangkan gejala kronisnya berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) yang biasanya terjadi pada tungkai (extremitas).
  • Pengobatan
            Tujuan utama dalam penanganan dini terhadap penderita filariasis adalah membasmi parasit atau larva yang berkembang dalam tubuh penderita, sehingga tingkat penularan dapat ditekan dan dikurangi. Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) merupakan obat yang paling efektif untuk membunuh mikrofilaria maupun makrofilaria. Sedangkan untuk mencegah penyakit filariasis cara yang paling efektif yaitu nyamuk penularnya harus diberantas dan penerapan biosafety level 2. Cara tepat untuk memberantas nyamuk adalah berantas jentik-jentiknya di tempat berkembang biaknya, melalui penggunaan insektisida, pengasapan (thermal fogging) atau dengan pengabutan (cold fogging).

Balantidiasis
  •  Definisi
            Balantidiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Balantidium coli. B.coli merupakan suatu protozoa yang masuk dalam filum Ciliophora, kelas Kinetofragminophorea, ordo Trichostomatida, famili Balantidiae. Merupakan protozoa besar, habitatnya pada usus besar. Parasit ini ditemukan di seluruh dunia yang beriklim subtropik dan tropik, tetapi frekuensinya rendah.
  • Etiologi
            Penyakit ini disebabkan oleh Balantidium coli. Balantidium coli adalah protozoa yang besar dan mempunyai 2 bentuk yaitu bentuk vegetatif dan bentuk kista, bentuk vegetatif adalah lonjong, besarnya 60-70 mikron. Pada bagian anterior terdapat sitostom yang berfungsi sebagai mulut. Di bagian posterior di temukan sitopig (cytopyge) berfungsi untuk mengeluarkan zat-zat yang tidak di perlukan lagi. Pada seluruh tubuh terdapat bulu getar (silium) yang tersusun dalam baris longitudinal. Fungsi bulu getar adalah untuk bergerak dan mengambil makanan.
  • Host
            Kera, simpanse (Pan troglodytes), Squirrelmonkey (Saimiri sciurea).
  • Tanda Klinis
            Diare yang diselingi konstipasi, sakit perut, tidak nafsu makan, muntah dan kakeksia (cachexia). Jika infeksinya ringan biasanya ditemukan tanpa gejala. Kadang-kadang dapat menimbulkan infeksi ekstraintestinal, misalnya dapat menyebabkan peritonitis, uretriris.
  • Pengobatan
Pengobatannya dapat dilakukan dengan pemberian tetrasiklin atau iodokuinol. Sedangkan untuk pencegahannya yaitu dengan penerapan biosafety level 2, meningkatan sanitasi lingkungan, dan hygiene (khususnya kebersihan pakan dan minuman).

September 12, 2016

Restrain Kimiawi pada Kucing

   
restrain kimia kucing
Restrain kimiawi pada kucing (sumber gambar: http://rarerborealis.com/)

    Restrain merupakan metode untuk menghalangi gerakan atau aksi hewan dengan tujuan untuk mengurangi bahaya bagi operator, pembantu operator atau hewannya sendiri. Restrain yang salah mengakibatkan pemeriksaan awal yg kurang teliti, diagnosa keliru dan juga sering menyebabkan kelukaaan hewannya sendiri.

Tujuan hewan di lakukan restrain yaitu untuk pemeriksaan/diagnostic serta untuk medical therapy sebelum dan sesudah dilakukan pembedahan. Pada umumnya, kucing dapat direstrain seperti anjing yang berukuran kecil, tetapi kucing yang agresif dapat menyebabkan masalah karena mereka tidak hanya dapat menggigit tetapi dapat juga menggunakan cakar mereka. Untuk menangani kucing, maka kucing tersebut harus di restrain.
Restrain dapat dilakukan dengan dua metode yaitu restrain fisik dan restrain kimiawi. Restrain kimiawi merupakan cara penanganan hewan sebelum diperiksa dengan cara menghalangi gerak aksi dari hewan menggunakan bahan-bahan kimiawi (obat penenang). Restrain kimia dapat dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan kimia, misalnya yang tergolong dalam sedativa dan tranquilizer. Transquilizer termasuk dalam golongan psikhofarmaka, transqulizer adalah obat yang digunakan untuk mengurangi rasa takut dan ketegangan, disebut juga dengan minor transquilizer atau anksiolitika, obat ini juga digunakan untuk mengobati keadaan neurosis dengan gejala: syaraf, kegelisahan, kebimbangan, dan tegang dan mudah marah. Yang perlu diperhatikan dalam pemberian restrain secara kimiawi, karena ada kemungkinan obat-obatan yang di gunakan bisa berpengaruh fatal terhadap pasien karena obat yang di gunakan merupakan kontraindikasi.
Restrain kimia dilakukan pada saat tindakan medis yang menyakitkan seperti pembedahan (operasi) yang melibatkan organ dalam maupun pembedahan tulang (ortopedi) tidak memungkinkan jika hanya menggunakan restrain fisik. Tindakan medis yang menyakitkan cukup berbahaya bagi hewan itu sendiri maupun dokter hewan yang menanganinya. Oleh karena itulah kita menggunakan bantuan restarain kimia. Untuk melakukan restrain kimiawi, syarat obat yang dipakai ialah:
  •          Mudah aplikasinya
  •          Aman bagi hewan
  •          Memberikan cukup waktu bagi pelaksana
  •          Efek samping tdk ada/ minimal
  •          Ada antidotumnya (efek kebalikan)
  •          Dosis kecil spektrum luas
  •          Stabil, susunannya, tahan lama bila disimpan, tahan terhadap keadaan lingkungan

 Restrain kimia dapat dilakukan dengan agen farmakologis seperti pemberian obat-obatan acepromazine, medetomidine, maupun xylazine. Pada dasarnya pemberian anestesi dilakukan untuk mengurangi bahkan menghilangkan rasa sakit baik disertai atau tanpa disertai hilangnya kesadaran. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka tindakan anestesi telah dilengkapi alat-alat canggih untuk berbagai tujuan antara lain demi keamanan pasien serta perlindungan bagi organ-organnya. Berbagai jenis obat juga telah tersedia dipasaran yang memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan. Salah satu metode yang digunakan pada hewan kecil adalah anestesi inhalasi. Obat anestetik inhalasi yang pertama kali dikenal dan digunakan untuk anestesi ialah N2O. Kemudian menyusul eter, kloroform, etilen, halotan, enfluran, isofluran, desfluran dan sebagainya. Dalam dunia modern, anestesi inhalasi yang umum digunakan untuk praktek klinik adalah N2O, halotan, enfluran, isofluran, desfluran dan sevofluran.

Referensi:
Dharmojo, H. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Veteriner (Hewan Kecil). Jakarta:Pustaka Populer Obor.
Maddison, J., Page, S., & Church, D. 2008. Small Animal Clinical Pharmacology. Philadelphia: Elsevier .
Gunanti,. 2011. Animal Restraint (cara pengendalian hewan). Bagian bedah dan radiologi, Fakultas Kedokteran Hewan. IPB; Bogor.